Kamis, 03 September 2009

Bahasa Prokem

Menurut Lita (1990: 2), bahasa prokem adalah bahasa yang digunakan untuk mencari dan menunjukkan identitas diri, bahasa yang dapat merahasiakan pembicaraan mereka dari kelompok yang lain. Kata-kata seperti bokap, ogut, boil, poskul, pae merupakan sebagian contoh kosakata prokem yang dipakai secara khas oleh kalangan remaja.

Bahasa prokem mulai digunakan warga masyarakat yang pada saat munculnya itu dikenal sebagai tukang copet, tukang jambret, perampok, pembunuh, dan pekerjaan lain yang menjurus ke arah kriminalitas. Bahasa ini kemudian mulai diserap beberapa orang yang tidak seprofesi, tetapi yang sering bersemuka dengan mereka itu. Mereka antara lain adalah pemuda dan remaja putus sekolah, yang ketika itu dikenal orang dengan nama crossboy. Dari sinilah bahasa prokem mengembangkan sayapnya dan dikenal banyak daripada jumlah “preman”. Kelompok yang kemudian tertarik untuk mempelajarinya adalah para remaja yang masih bersekolah, baik di sekolah-sekolah lanjutan tingkat pertama, maupun sekolah lanjutan tingkat atas, bahkan ada yang masih duduk di bangku sekolah dasar atau sudah di perguruan tinggi

Variasi Bahasa dan Ragam Bahasa

Menurut Chaer (2004: 66), variasi bahasa yang berkenaan dengan tingkat golongan, status, dan kelas sosial para penuturnya adalah akrolek, basilek, vulgar, slang, kolokial, jargon, argot, ken, dan prokem.


Akrolek adalah variasi bahasa yang dianggap lebih tinggi atau lebih bergengsi daripada variasi sosial lainnya. Contohnya, bahasa bagongan, yaitu variasi bahasa Jawa yang khusus digunakan oleh para bangsawan kraton Jawa. Basilek adalah variasi sosial yang dianggap kurang bergengsi, atau bahkan dianggap dipandang rendah.
Vulgar adalah variasi bahasa yang ciri-cirinya tampak dipakai oleh mereka yang kurang terpelajar, atau dari kalangan mereka yang tidak berpendidikan. Slang adalah variasi bahasa yang bersifat khusus dan rahasia. Artinya, variasi ini digunakan oleh kalangan tertentu yang sangat terbatas, dan tidak boleh diketahui oleh kalangan di luar kelompok itu.
Kolokial adalah variasi bahasa yang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Kolokial berarti bahasa percakapan, bukan bahasa tulis. Dalam bahasa Indonesia, percakapan banyak menggunakan bentuk-bentuk kolokial, seperti dok (dokter), prof, (profesor), dan sebagainya.
Jargon merupakan variasi sosial yang digunakan secara terbatas oleh kelompok-kelompok sosial tertentu. Ungkapan yang digunakan seringkali tidak dapat dipahami oleh masyarakat umum atau masyarakat di luar kelompoknya. Namun, ungkapan-ungkapan tersebut tidak bersifat rahasia, seperti roda gila, dices, dan didongkrak, yang dipakai oleh para montir di lingkungan perbengkelan.
Argot adalah variasi sosial yang digunakan secara terbatas pada profesi-profesi tertentu dan bersifat rahasia. Letak kekhususan argot adalah pada kosakata. Umpamanya, dalam dunia kejahatan (pencuri, tukang copet) pernah digunakan ungkapan, seperti barang dalam arti ‘mangsa’, kacamata dalam arti ‘polisi’, dan tape dalam arti ‘mangsa yang empuk’.
Menurut Chaer (2004: 68), ken (Inggris = cant) adalah variasi sosial tetentu yang bernada ‘memelas’, dibuat merengek-rengek, penuh dengan kepura-puraan. Biasanya digunakan oleh para pengemis.
Prokem merupakan variasi sosial bahasa yang bersifat bebas. Artinya, variasi bahasa yang digunakan oleh kelompok tertentu, yang terbatas di lingkungan remaja sebagai alat komunikasi. Oleh karena itu, kosakata yang digunakan dalam prokem itu selalu berubah-ubah. Variasi bahasa prokem digunakan oleh para remaja, meski tidak menutup kemungkinan golongan tua pun memakai bahasa tersebut sebagai alat komunikasi

Rabu, 04 Februari 2009

Ketika Sikap Profesional Guru ditunjukan........

Kalau kita bayangkan sejenak pikiran kita ke dalam kelas, dimana sedang berlangsung pengajaran maka kita lihat seorang guru sedang mengajar. Sebelum melaksanakan tugasnya sebagai guru, seorang guru harus terlebih dahulu mempelajari kurikulum sekolah dan memahami semua program pendidikan yang akan dilaksanakan. Bila diibaratkan dalam dunia transportasi angkutan umum, seorang guru adalah supir, seorang murid adalah penumpang, sedangkan fasilitas kelengkapan pengajaran adalah mobil. Dalam hal ini tugas seorang guru adalah membawa para muridnya atau penumpang sampai tujuan dengan selamat dengan menggunakan fasilitas yang mendukung atau mobil.
Jabatan guru terkenal sebagai suatu pekerjaan profesional, artinya jabatan ini memerlukan suatu keahlian khusus. Sebagaimana orang menilai bahwa dokter, insinyur, ahli hukum, dan sebagainya. Sebagai profesi tersendiri maka gurupun adalah suatu profesi tersendiri. Pekerjaan ini tidak dapat dikerjakan oleh sembarang orang tanpa memiliki keahlian sebagai guru. Guru profesional adalah guru yang dapat memahami apa yang dibutuhkan dan harus segera dilaksanakan untuk proses belajar mengajar. Ditambah lagi ia telah mendapatkan pendidikan khusus yang diperlukan untuk jenis pekerjaan ini maka sudah dapat dipastikan bahwa hasil usahanya akan lebih baik.

Untuk menjadi seorang guru yang profesional tidaklah gampang, ada syarat yang harus dipenuhi diantaranya:
1. Harus memiliki bakat sebagai seorang guru
Bakat ini dapat berupa bawaan atau alami dan ada yang dibentuk dengan melalui proses pendidikan, pelatihan dan mendapatkan dari media-media yang lain yang menunjang terhadap pekerjaannya nanti.
2. Harus memiliki keahlian sebagai guru
Keahlian ini diantaranya ilmu retorika dan ilmu memahami orang lain. Dalam menyampaikan maksud dan keinginan tentu perlu menguasai cara yang efektif dalam menyampaikan informasi, sehingga apa yang disampaikan dapat dipahami oleh orang lain.
3. Memiliki kepribadian yang baik dan memiliki integrasi
Seorang guru harus memiliki jiwa yang baik dan memiliki kepercayaan diri yang besar. Dalam tugasnya nanti seorang guru akan dijadikan contoh dan barometer cap sebagai orang yang baik.
4. Memiliki mental yang sehat
Seorang guru dalam menjalankan tugasnya dibutuhkan mental yang sehat dan kuat. Dengan demikian proses belajar mengajar akan menghasilkan pemikiran-pemikiran yang sehat pula.
5. Berbadan sehat
Tentu dalam menjalankan tugas, seorang guru harus memiliki tubuh yang sehat karena dalam mengjar tidak hanya membutuhkan tenaga pikiran tapi tenaga ketahanan tubuh.
6. Memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas
Seorang guru layaknya adalah seorang pemikir yang terus berusaha untuk membawa kehidupan para murid pada kehidupan yang lebih baik lagi. Sehingga wawasan yang luas sangat dibutuhkan.
7. Guru adalah manusia berjiwa pancasila
Sebagai panutan, guru mengemban misi yang sangat berat. Di kehidupan masyarakat sebagai pembimbing dan kehidupan sekolahan sebagai panutan para murid. Oleh sebab itu guru wajib berjiwa pancasila.
8. Guru adalah seorang warga negara yang baik
Guru dalam kehidupan sebagai panutan tentu harus menyampaikan dan mengajarkan hal yang baik-baik. Di masyarakat menjadi pembimbing dan mengikuti aturan-aturan yang ada dalam masyarakat.

Guru seorang pendidik profesioan mempunyai citra yang baik di masyarakat apabila dapat menunjukan kepada masyarakat bahwa ia layak menjadi panutan atau teladan bagi masyarakat sekelilingnya. Masyarakat terutama akan melihat bagaimana sikap dan perbuatan guru itu sehari-hari, apakah memang ada yang patut untuk diteladani atau tidak