Rabu, 31 Maret 2010

Majas Perbandingan

Majas perbandingan dibagi menjadi:
1. Asosiasi : perbandingan dua hal yang hakikatnya berbeda, tetapi dianggap sama. Majas ini ditandai oleh penggunaan kata bagai, bagaikan, seumpama dan seperti.
Contoh: Hatiku perih seperti disayat sembilu
2. Metapora: Majas perbandingan yang diungkapkan secara singkat dan padat.
3. Personafikasi : Majas yang membandingkan benda-benda yang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat seperti manusia.
Contoh: Angin berbisik menghembuskan kedamaian.
4. Alegori: Majas perbandingan yang bertautan satu dengan lainnya dalam kesatuan yang utuh.
Contoh: Pernikahan merupakan bahtera yang harus dijalani dengan hati-hati, Suami istri bagai nahkoda dan juri mudi yang hendaknya seia sekata melayarkan bahteranya sehingga dapat mengaungi lautan kehidupan yang penuh badai dan gelombang.

Selasa, 16 Maret 2010

Kehidupan

Kehidupan
Oleh; Uus nur hayani

Ada peristiwa kejam
ada peristiwa lembut
itu sudah dalam suratan takdir
Ada kalanya kita bersama
ada kalanya kita bersedih
itu semua sudah dalam suratan takdir
adanya kepedihan
adanya kebahagiaan
keduanya itu sudah dalam suratan takdir
kehidupan terselimuti dalam suratan takdir

Becak Tua

Becak Tua
Oleh: Fauziah Masruroh

Anakku mengapa kau tak menghargai
jerih payah ayahmu
panas terik matahari
hujan turun sangat deras
tapi kutakhiraukan semua itu
ayahmu mengayuh becak tua
untuk menghidupi dirimu
becak tua itu selalu menemani
hari-hari ayahmu...

Krisis...

Krisis
oleh: Astri Martine

Krisis ekonomi adalah kemiskinan
krisis ilmu adalah kebodohan
krisis perusahaan adalah pengangguran
krisis cinta adalah perpecahan
krisis nurani adalah kebiadaban
krisis iman adalah kehancuran
krisis kata adalah kebisuan
krisis ide adalah kematian.

(Antologi puisi, berlabuh dalam sepi)

Sastra Melayu Klasik

sastra melayu klasik adalah: karya sastra yang berkembang pada zaman masyarakat tradisional yang hidup dan berkembang secara turun temurun. Karateristik (ciri-ciri)sastra melayu klasik sebagai berikut:

1. bentuk :puisi terikat: pantun, syair, mantra, bidal, seloka, gurindam. Prosa: doneng, tambo, hikayat. legenda.
2. ciri yang paling menonjol adalah disampaikan dari mulut-mulut
3. menggunakan bahasa yang masih dipengaruhi oleh bahasa melayu
4. ceritanya berkisar pada masalah kerajaan istanasentris
5. Anonim, tidak ada pengarang yang jelas
6. tokoh-tokohnya, selain raja dan keluarganya, juga binatang dan tumbuhan
7. bersifat fiktif.

skimming dan scanning

skimming adalah kegiatan mencari ide pokok atau hal-hal yang penting dari bacaan secara cepat.scanning adalah: teknik membaca cepat untuk menemukan informasi yang telah ditentukan pembaca sebelum kegiatan membaca dilakukan

scanning dapat digunakan untuk beberapa keperluan, antara lain:
1. mencari nomor telepon
2. mencari kata pada kamus
3. mencari entri pada indeks
4. mencari angka-angka statistik
5. melihat acara siaran televisi
6. melihat daftar perjalanan.

Paragraf

Paragraf adalah satuan terkecil dari karangan, paragraf adalah satu kesatuan ekspresi yang terdiri atas seperangkat kalimat yang dipergunakan oleh pengarang sebagai alat untuk menyampaikan jalan pikirannya kepada pembaca.
Ciri-ciri paragraf:
1.Umumnya paragraf dibangun oleh sejumlah kalimat
2.Paragraf adalah satu kesatuan pikiran
3.Paragraf adalah satu yang koheren dan padat
4.Kalimat-kalimat paragraf tersusun secara logis dan sistematis.

Letak Kalimat Utama
1. Paragraf Deduktif : Gagasan pokoknya terletak diawal kalimat.
2. Paragraf Induktif : Gagasan pokoknya terletak diakhir paragraf.
3. Paragraf Campuran : Kalimat utamanya terletak diawal dan diakhir kalimat.
Contoh Penalaran deduktif
Premis mayor : petani yang berhasil adalah petani yang dapat melipatgandakan hasil pertaniannya
Premis minor : dia adalah petani yang dapat melipatgandakan hasil pertaniannya.
Simpulan : dia adalah petani yang berhasil.
Macam-macam Paragraf :
1. Paragraf Narasi : Paragraf yang bertujuan untuk menceritakan atau mengkisahkan suatu kejadian.
2. Paragraf Diskripsi : Paragraf yang bertujuan menggambarkan sesuatu dengan sejelas jelasnyaseolah-olah pembaca mengalaminya sendiri.
3. Paragraf Eksposisi : Paragraf yang bertujuan untuk menjelaskan/ menginformasikan untuk menggambarkan suatu tempat, kejadian.
4. Paragraf Argumentasi : Paragraf yang bertujuan untuk membuktikan sesuatu baik penelitian/analisis.
5. Paragraf Persusif : paragraf yang bertujuan untuk mempengaruhi/mengajak pembaca secara emosional.

Senin, 15 Maret 2010

Karakter Perwatakan Tokoh

1. Karakter tokoh
Setiap tokoh dalam novel biasanya memiliki watak yang berbeda, pengarang dapat mengemukakan watak tokoh dengan metode langsung dan metode tidak langsung.
1.Metode langsung, apabila pengarang mengomentari watak (sifat-sifat dasar) tokoh ceritanya itu secara langsung, seperti menyebutkan bahwa tokohnya itu mempunyai kebiasan yang buruk (suka marah, kasar, serakah, dengki, dan sebagainya) atau baik (bijaksana, suka menolong, rendah hati, dan sebagainya).
2.Metode tidak langsung, bila pengarang mengungkapkan watak tokoh ceritanya hanya melalui penyajian pikiran, percakapan (dialog), dan lakuan (tindakan- tindakan/ tingkah laku) tokohnya, melalui metode ini, pengarang mengharapkan pembaca dapat menyimpulkan sendiri tentang watak tokoh ceritanya melalui ucapan dan tingkah laku tokoh.

Perwatakan: adalah penggambaran watak atau sifat tokoh cerita.
Perwatakan berfungsi menyiapkan atau menyediakan alasan bagi tindakan tertentu dengan cara menggambarkan watak atau sifat-sifat tokoh-tokoh cerita.
Watak atau tokoh dalam cerita terbagi atas 3 macam, yaitu :
1. Tokoh Protagonis adalah tokoh utama dalam drama yang dimunculkan untuk mengatasi berbargai persoalan yang dihadapi dalam cerita.
2. Tokoh Antagonis adalah tokoh yang melawan Protagonis.
3. Tokoh Tritagonis adalah tokoh pendamai yaitu tokoh yang tidak memiliki sifat Protagonis dan Antagonis.

Faktor Keberhasilan Pembawa Acara

Pembawa acara atau sering disebut dengan MC (Master of Ceremony) adalah orang yang berperan memandu jalannya suatu acara mulai dari awal sampai selesai. Dalam membawakan sebuah acara diperlukan kemampuan dan keterampilan dalam mengolah dan menggunakan ragam bahasa yang digunakan. Ragam bahasa yang digunakan dapat bersifat formal maupun nonformal, sesuai situasi acara yang diselenggarakan, resmi atau tidak .

Faktor yang berpengaruh dalam penggunaan ragam bahasa, yaitu:
1.pembicara
2.pendengar
3.pokok pembicaraan
4.tempat dan suasana pembicaraan.
1. Faktor Latihan
Latihan yang menunjang keberhasilan yaitu :
a. Pernafasan.
b. Pengucapan.
c. Kelancaran berbicara.
d. Intonasi.
e. Penyusunan kalimat.
f. Membaca berbagai Informasi.
g. Seni gerak tubuh.
2. Faktor Estetis/Estetika
Seseorang pembawa acara harus bersikap luwes dan tampil menarik, menawan serta selalu memperhatikan etika pergaulan.
Contoh Estetis :
1. Dalam hal berbusana.
2. Berbicara.
3. Sopan santun.
3. Faktor Kontrol Emosi
Seseorang pembawa acara harus selalu memanfaatkan pikirannya untuk selalu melakukan kontrol emosi. Jangan melamun dan terlalu cepat.
4. Faktor Penguasaan Bahasa
Pembawa acara adalah seorang komunikator yang baik.
5. Mengatasi Demam Panggung
Cara mengatasinya yaitu dengan berkosentrasi, bersikap rileks, dan melakukan tindakan yang wajar.
6. Kualitas Suara
Upaya untuk memperbaiki kualitas suara ialah sikap badan, pernafasan, dan bentuk mulut sewaktu berbicara.
Adapun hal yang dapat menghambat dalam membawakan acara, antara lain:
1.artikulasi dan volume suara yang kurang memadai
2. pembicaraan monoton
3.penggunaan kata asing yang tidak tepat
4.terlalu banyak menggunakan kata-kata yang tidak perlu disampaikan
5.Terlalu cepat berbicara, sehingga temponya tidak teratur

Komponen Evaluasi Pemelajaran

Apa yang perlu dilakukan guru sebelum penulisan soal dimulai ?
1. membuat kisi-kisi terlebih dahulu. Agar kisi-kisi yang dibuat menjadi baik, maka kisi-kisi tersebut harus disesuaikan dengan kurikulum bidang studi masing-masing.
2. menyusun kompetensi/TIK dengan memperhatikan 4 komponen yang sedapat mungkin harus dipenuhi, antara lain:
a. Sasaran atau peserta tes (siswa kelas……… SMA XXX)
b. Tingkah laku yang diharapkan. Perumusan diharapkan mencakup kata kerja operasional
c. Kondisi/Hasil belajar. Yang dimaksud adalah kondisi yang diberikan pada saat tingkah laku siswa diukur bukan pada saat belajar
d. Tingkat keberhasilan (Indikator soal) merupakan standar tingkah laku tertentu yang dapat diterima.

Keempat komponen tersebut sering disingkat dengan ABCD (Audience, Behaviour, condition, dan Degree) Indikator merupakan kompetensi dasar yang lebih spesifik. Artinya apabila serangkaian indikator dalam satu kompetensi dasar sudah tercapai, maka target kompetensi dasar tersebut sudah tercapai.
Jenjang kemampuan ini mengacu kepada jenjang kemampuan berpikir yang dikembangkan oleh Bloom, dkk, yaitu Ingatan (C1), Pemahaman (C2), Penerapan (C3), Analisis (C4), Sintesis (C5), dan Evaluasi (C6).Tingkat kesukaran ditentukan berdasarkan pada pertimbangan guru sebagai ahli materi (expert judgment). Sebagian besar (50%-60%) butir soal yang akan ditulis diharapkan mempunyai tingkat kesukaran sedang, sisanya mempunyai tingkat kesukaran yang sukar (20%-25%), dan mudah (20%-25%). Tingkat kesukaran dikategorikan sedang jika diperkirakan siswa yang dapat menjawab butir soal tersebut kurang dari 50%. Tingkat kesukaran soal dikategorikan sukar jika dapat dijawab hanya oleh sebagian kecil siswa (25%). Sedangkan tingkat kesukaran soal dikategorikan mudah jika diperkirakan soal tersebut dapat dijawab dengan benar oleh sebagian besar siswa (75%)

Tugas Guru Dalam Evaluasi Pemelajaran

Tugas guru sebagai pengajar adalah merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran yang mendidik, menilai proses dan hasil pembelajaran yang diperoleh melalui hasil evaluasi.Dalam melaksanakan proses penilaian, tes merupakan alat ukur yang paling sering digunakan guru untuk mengukur hasil belajar siswa. Dari hasil tes, guru dapat mengetahui sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai. Oleh karena itu, agar tes dapat mengukur hasil dengan tepat, maka tes harus dikembangkan dengan benar.

A. Bagaimana Membuat Perencanaan Tes yang Baik
Tes baru akan berarti bila terdiri dari butir-butir soal yang menguji tujuan yang penting dan mewakili seluruh bahan yang diujikan secara representatif. Pemilihan butir-butir soal dilakukan atas dasar pertimbangan pentingnya konsep, dalil atau teori yang diuji dalam hubungannya dengan peranannya terhadap bidang studi secara keseluruhan.Untuk memudahkan guru dalam menyusun tes, maka perlu dibuat kisi-kisi soal yang akan menjadi acuan bagi guru dalam menulis butir soal. Kisi-kisi ini memuat beberapa informasi, antara lain cakupan materi yang akan diuji, kompetensi yang akan diuji, tingkat kesukaran soal, dan jumlah butir soal yang dibutuhkan
B. Dasar-dasar Penyusunan Tes
Tes merupakan alat ukur yang paling banyak digunakan untuk menentukan keberhasilan siswa dalam suatu proses pembelajaran. Adapun dasar-dasar penyusunan tes adalah sebagai berikut:
1. Tes harus dapat mengukur apa-apa yang dipelajari dalam proses pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran yang tercantum dalam rencana pembelajaran
2. Tes disusun sedemikian rupa sehingga benar-benar mewakili materi yang telah dipelajari
3. Pertanyaan tes hendaknya disesuaikan dengan aspek-aspek tingkat belajar yang diharapkan
4. Tes hendaknya disusun sesuai dengan tujuan penggunaan tes itu sendiri
5. Tes disesuaikan dengan pendekatan pengukuran yang dianut, apakah mengacu pada kelompok ataukah mengacu pada patokan tertentu
6. Tes hendaknya dapat digunakan untuk memperbaiki proses pembelajaran
C. Bagaimana Menyusun Soal Objektif
Dilihat dari konstruksi, tes objektif tersusun atas pokok soal (stem) yang disertai dengan empat sampai lima pilihan jawaban (option). Diantara empat/lima jawaban tersebut harus terdapat satu jawaban yang benar atau yang paling benar (sebagai kunci) dan tiga jawaban tidak benar (pengecoh). Pokok soal (stem) dapat dirumuskan dalam dua bentuk. Pertama stem dirumuskan dalam bentuk kalimat tidak selesai, dan yang kedua stem dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya. Jika stem dirumuskan dalam bentuk kalimat tidak selesai, maka akhir kalimat harus diikuti dengan 4 buah titik dan awal dari setiap option harus dimulai dengan huruf kecil tanpa diberi titik pada akhir setiap option. Jika stem dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya maka akhir stem diikuti dengan tanda tanya pada setiap awal option dimulai dengan huruf besar sedangkan pada setiap option diberi tanda titik.

Peranan Media Pembelajaran dan Pemilihannya dalam Pembelajaran

Penggunaan AVA (Audio Visual Aids) dapat memperluas saluran komunikasi antara guru dan siswa. Maksudnya apabila Anda mengajar dengan tidak menggunakan AVA seperti ketika menjelaskan materi pelajaran atau ketika memberi latihan, berarti Anda hanya menggunakan mulut untuk berkomunikasi atau disebut juga komunikasi verbal. Apabila Anda menggunakan media seperti tape, gambar, dll. dalam mengajar, maka Anda menggunakan lebih dari satu saluran komunikasi. Anda tidak hanya memberikan stimulus secara verbal saja, tetapi Anda juga menggunakan stimulus melalui saluran aural dan visual. Semakin banyak kita menggunakan saluran komunikasi ketika mengajar, semakin banyak informasi yang dapat diserap siswa, serta tentunya semakin efektif pengajaran kita.

Pentingnya media juga dapat dilihat dari aspek kehidupan siswa. Suatu kenyataan bahwa siswa mendapatkan pengalaman yang lebih luas dan bervariasi dibanding orangtua mereka ketika masih muda. Sehingga cukup beralasan kiranya apabila sekolah memberikan siswa pengalaman sebanyak mungkin dan variatif. Untuk mencapai hal ini, sekolah harus menggunakan sebanyak mungkin media yang dapat menyajikan berbagai pengalaman kepada siswa.Media dapat digunakan untuk keperluan pembelajaran baik secara klasikal maupun individual. Dalam pembelajaran klasikal, media menjadi bagian integral dari proses pembelajaran itu sendiri. Melalui penggunaan media, siswa dapat terlibat langsung dengan materi yang sedang dipelajari. Misalnya, penggunaan media realia atau benda nyata akan memberikan pengalaman belajar (learning experiences) yang sesungguhnya kepada siswa. Siswa dapat menyentuh dan mengobservasi benda tersebut dan memperoleh informasi yang diperlukan. Dalam mata pelajaran biologi, contoh benda nyata adalah flora dan fauna yang dapat diobservasi secara langsung oleh siswa.

Stuktur Pembangun Drama

1.Pengertian Drama Laku dalam Simulasi Realitas
Drama adalah laku yang meniru laku dalam kehidupan nyata untuk memberikan pengukuhan dan alternatif bagi kehidupan itu sendiri. Karena yang ditekankan adalah laku, maka kata-kata/dialog dalam drama harus dipahami sebagai bagian yang tak terpisahkan dari keseluruhan situasi interaksi atau komunikasi manusia yang melibatkan tidak hanya kata-kata/dialog itu sendiri, tetapi juga situasi yang melingkungi dialog, seperti siapa yang berdialog, kapan dan di mana dialog itu berlangsung, dan mengapa dialog itu diutarakan. Dengan demikian, dalam laku drama kita melihat kesatuan antara kata-kata, perbuatan, dan situasi. Sifat kemenyatuan ini sangat sesuai atau mirip dengan keadaan yang berlangsung dalam kehidupan komunikasi manusia yang nyata. Oleh karena itu, drama dapat berfungsi sebagai media simulasi realitas, yaitu media untuk menghaluskan dan mengembangkan diri manusia dan kebudayaannya melalui penanaman nilai kultural/keagamaan, penyampaian pemikiran baru, dan penyampaian kritik sosial.

2.Pementasan Drama
Naskah drama dibuat bukan semata-mata untuk dibaca, tetapi lebih dimaksudkan untuk dipentaskan. Untuk mewujudkan naskah drama menjadi sebuah pementasan, diperlukan banyak pihak yang harus bekerja sama secara kompak. Pihak-pihak tersebut adalah produser, sutradara, aktor/aktris, dan desainer. Berbagai pihak ini kemudian mengubah atau mengonkretkan naskah menjadi konsep produksi, yakni suatu rumusan konseptual atau ide dasar yang menyatukan berbagai aspek pementasan yang berbeda sehingga dapat terbentuk suatu sudut pandang pemaknaan bersama terhadap produksi pementasan. Rumusan ini bersifat general, konkret, dan inspiratif. Dengan panduan konsep produksi itulah berbagai pihak tersebut saling memberikan kontribusi demi terciptanya pementasan yang berhasil.

Stuktur Pembangun Puisi

1.Pengertian Puisi
Puisi ialah perasaan penyair yang diungkapkan dalam pilihan kata yang cermat, serta mengandung rima dan irama. Ciri-ciri puisi dapat dilihat dari bahasa yang dipergunakan serta dari wujud puisi tersebut. Bahasa puisi mengandung rima, irama, dan kiasan, sedangkan wujud puisi terdiri dari bentuknya yang berbait, letak yang tertata ke bawah, dan tidak mementingkan ejaan. Untuk memahami puisi dapat juga dilakukan dengan membedakannya dari bentuk prosa.

2.Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Puisi
Sebuah karya sastra mengandung unsur intrinsik serta unsur ekstrinsik. Keterikatan yang erat antarunsur tersebut dinamakan struktur pembangun karya sastra.
Unsur intrinsik ialah unsur yang secara langsung membangun cerita dari dalam karya itu sendiri, sedangkan unsur ekstrinsik ialah unsur yang turut membangun cerita dari luar karya sastra.
Unsur intrinsik yang terdapat dalam puisi, prosa, dan drama memiliki perbedaan, sesuai dengan ciri dan hakikat dari ketiga genre tersebut. Namun unsur ekstrinsik pada semua jenis karya sastra memiliki kesamaan.
Unsur intrinsik sebuah puisi terdiri dari tema, amanat, sikap atau nada, perasaan, tipografi, enjambemen, akulirik, rima, citraan, dan gaya bahasa. Unsur ekstrinsik yang banyak mempengaruhi puisi antara lain: unsur biografi, unsur kesejarahan, serta unsur kemasyarakatan.
3.Jenis-jenis Puisi
Berdasarkan waktu kemunculannya puisi dapat dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu puisi lama, puisi baru, dan puisi modern.
Puisi lama adalah puisi yang lahir sebelum masa penjajahan Belanda, sehingga belum tampak adanya pengaruh dari kebudayaan barat. Sifat masyarakat lama yang statis dan objektif, melahirkan bentuk puisi yang statis pula, yaitu sangat terikat pada aturan tertentu. Puisi lama terdiri dari mantra, bidal, pantun dan karmina, talibun, seloka, gurindam, dan syair.
Puisi baru adalah puisi yang muncul pada masa penjajahan Belanda, sehingga pada puisi baru tampak adanya pengaruh dari kebudayaan Eropa. Penetapan jenis puisi baru berdasarkan pada jumlah larik yang terdapat dalam setiap bait. Jenis puisi baru dibagi menjadi distichon, terzina, quatrain, quint, sextet, septima, stanza atau oktaf, serta soneta.
Puisi modern adalah puisi yang berkembang di Indonesia setelah masa penjajahan Belanda. Berdasarkan cara pengungkapannya, puisi modern dapat dibagi menjadi puisi epik, puisi lirik, dan puisi dramatik.

Pendekatan CBSA

Pada umumnya metode lebih cenderung disebut sebuah pendekatan. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan kata “approach” yang dimaksudnya juga “pendekatan”. Di dalam kata pendekatan ada unsur psikhis seperti halnya yang ada pada proses belajar mengajar. Semua guru profesional dituntut terampil mengajar tidak semata-mata hanya menyajikan materi ajar. Guru dituntut memiliki pendekatan mengajar sesuai dengan tujuan instruksional. Menguasai dan memahami materi yang akan diajarkan agar dengan cara demikian pembelajar akan benar-benar memahami apa yang akan diajarkan.

CBSA adalah pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif terlibat secar fisik, mental, intelektual, dan emosional dengan harapan siswa memperoleh pengalaman belajar secara maksimal, baik dalam ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor. Pendekatan CBSA menuntut keterlibatan mental vang tinggi sehingga terjadi proses-proses mental yang berhubungan dengan aspek-aspek kognitif, afektif dan psikomolorik. Melalui proses kognitif pembelajar akan memiliki penguasaan konsep dan prinsip. Konsep CBSA yang dalam bahasa Inggris disebut Student Active Learning (SAL) dapat membantu pengajar meningkatkan daya kognitif pembelajar. Kadar aktivitas pembelajar masih rendah dan belum terpogram. Akan tetapi dengan CBSA para pembelajar dapat melatih diri menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepada mereka. Tidak untuk dikerjakan di rumah tetapi dikerjakan dikelas secara bersama-sama.

Homonim, Homograf, dan Homofon

Beberapa kata bahasa Indonesia ada yang mengalami homonim, homograf, dan homofon. Ketiga istilah ini memiliki perbedaan juga memiliki kesamaan. Kesamaannya, dalam hal pelafalan. Untuk perbedaannya, bisa disimak pada keterangan di bawah.

Homonim

Homonim adalah kata yang sama lafal dan ejaannya tetapi berbeda maknanya.
Contoh pasangan kata yang termasuk homonim:
a. bisa : dapat
bisa : racun
b. buku : ruas
buku : kitab
c. salak : nama buah
salak : bunyi gonggongan anjing
c. bulan : waktu 30 hari
bulan : nama satelit bumi
d. genting : gawat
genting : benda penutup atap rumah
e. malam : nama waktu lawannya siang
malam : nama zat bahan membatik

Homograf

Homograf adalah kata yang sama lafalnya dengan kata lain tertapi beda ejaan dan maknanya.

Contoh kata-kata yang termasuk homograf:
a. apel (lafal e seperti pada teh) : upacara
apel (lafal e seperti pada teman) : nama buah
b. seminar (lafal e seperti pada teman) : bersinar-sinar
seminar (lafal e seperti pada sate) : pertemuan ilmiah

Homofon

Kata yang sama lafalnya dengan kata lain tetapi beda ejaan dan maknanya.
Contoh kata-kata yang termasuk homofon:
a. sangsi : ragu-ragu
sanksi : hukuman
b. bank : tempat menanbung
bang : panggilan untuk orang laki-laki

Problematika Pengajaran Sastra di Sekolah

Di tengah ramainya tuntutan para guru untuk mendapatkan kesejahteraan yang layak bagi mereka, sudahkah para guru itu berkontemplasi. Maksudnya adalah merenungi atas hal-hal yang telah mereka perbuat dalam dunia pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia. Sastra merupakan bagian intergral dalam dunia pendidikan tersebut yang diajarkan di setiap jenjang pendidikan di Indonesia, Pengajaran sastra mencakup ketiga genre sastra, yakni prosa fiksi, puisi, dan drama.

Dalam pengaplikasiannya, ketiganya disintesiskan dengan kegiatan menyimak dan membaca sebagai aktivitas reseptif para siswa. Disintesiskan juga dengan kegiatan berbicara dan menulis para siswa yang merupakan aktivitas produktif mereka. Hal ini berlangsung hingga pada tahap evaluasi. Dalam pengajaran sastra ini, terdapat beberapa problematika yang harus segera diatasi oleh para guru bahasa dan sastra di sekolah. Hal ini kita pandang perlu karena problematika pengajaran sastra menyebabkan kurang optimalnya pengajaran sastra di sekolah. Akhirnya, para siswa pun kurang cerdas dalam hal bersastra. Kita tidak hanya mengharapkan output dalam pemelajaan sastra. Lebih daripada itu, kita mengingkan outcome yang bagus. Contoh, proses belajar-mengajar terjadi dan akhirnya siswa memiliki pengetahuan tentang sastra. Banyak orang beranggapan bahwa contoh itu telah selesai. Padahal, dalam contoh itu hanya sampai pada output. Kita menginginkan para siswa di lapangan dapat mengapresiasi, menganalisis, dan juga dapat memproduksi karya sastra sebagai outcome dalam pengajaran sastra di sekolah.
Selama ini pengajaran sastra di sebagian besar sekolah hanya terjadi dalam ruang yang diapit dinding-dinging kelas. Hasilnya, daya imajinasi dan kreasi mereka kurang berkembang secara optimal. Misalnya, ketika para siswa mendapatkan tugas membuat puisi berkenaan dengan alam. Namun, guru yang bersangkutan tidak mengajak mereka ke alam terbuka. Padahal di ruang tertutup dinding-dinging kelas kurang mendukung dalam menumbuhkembangkan daya imajinasi dan kreasi mereka dalam proses penciptaan puisi. Ini merupakan salah satu problematika dalam pengajaran sastra di sekolah. Seharusnya para siswa perlu diajak oleh para guru keluar ke alam terbuka yang membantu mereka dalam proses penciptaan karya sastra. Problematika yang lain, sebagian besar guru bahasa dan sastra di sekolah juga kurang menumbuhkembangkan minat dan kemampuan para siswa dalam hal sastra. Sebenarnya para guru bahasa dan sastra Indonesia dapat mengusahakan karya sastra siswa dimuat di media massa, dalam bentuk buku sastra, dan juga dalam media elektronik, yakni internet dan radio. Hal terakhir ini sangat bagus dalam menumbuhkembangkan potensi sastra yang ada pada diri para siswa. Mereka akan tertantang untuk membuat dan memublikasikan karya-karya sastra mereka secara luas dan secara kontinyu. Kenyataan yang lebih memprihatinkan, sebagian besar guru bahasa dan sastra tidak menjadi contoh sebagai orang yang aktif membuat dan memublikasikan karya sastra di media massa, dalam buku sastra, dan media elektronik. Selain itu, sebagian besar guru bahasa dan sastra di sekolah juga sangat kurang memperkenalkan sastrawan-sastrawan Banten kepada para siswa. Oleh karena itu, wajar jika sebagian besar siswa tidak mengenal para sastrawan Banten. Padahal, biodata dan karya-karya sastrawan merupakan pengetahuan sastra yang harus dimiliki oleh para siswa di setiap jenjang pendidikan di sekolah. Seharusnya, para guru bahasa dan sastra jangan hanya memperkenalkan para sastrawan dari pulau Jawa, Sumatera, atau dari pulau lainnya kepada para siswa. Perlu kita ketahui bahwa sebagian sastrawan Banten juga sudah menjadi sastrawan nasional di Indonesia. Sebut saja dua contohnya, Gola Gong dan Toto ST Radik. Karya-karya sastrawan Banten pun layak menjadi bahan pelajaran sastra di setiap jenjang pendidikan.

Tata Bahasa

Imbuhan me akan berubah atau tetap, tergantung pada huruf awal kata dasar yang diikuti. Contoh kasus dari awalan me + kata dasar adalah kata mengkonsumsi dan menyoblos yang sering digunakan meskipun salah. Padahal, yang benar, adalah mengonsumsi dan mencoblos. Dua kata ini sekedar contoh untuk mewakili dari sekian kata yang mengalami nasib dalam penulisan. Dari kesalahan penulisan ini membawa dampak meningkatnya kesalahan dalam berbahasa lisan. Untuk mengurangi kesalahan dalam penulisan ejaan ada cara sederhana: menyimak tulisan istilah yang dimaksud dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Sesuai pedoman EYD, penulisan kata jadian yang berawalan me akan mengalami dua kejadian yaitu pada awalan me dan pada kata dasar. Hal utama yang perlu diperhatikan bila akan menulis kata jadian yang berawalan me adalah mengetahui “huruf awal kata dasar”.

A. Perubahan pada awalan me
1. Awalan me tidak berubah
me + kata dasar dengan huruf awal l, m, n, r, w, y.
Misalnya:
me + lipat = melipat
me + makan = memakan
me + rakyat = merakyat
me + nanti = menanti
me + yakin + i = meyakini

2. Awalan me berubah menjadi mem
me + kata dasar dengan huruf awal b, f,p, v
Misalnya:
me + basmi = membasmi
me + foto = memfoto
me + pikat = memikat (lihat juga B, 2)
me + veto = memveto
tetapi untuk kata yang terdiri satu suku kata
me + bor = membor atau mengebor
me + bom = membom atau mengebom
3. Awalan me berubah menjadi men
me + kata dasar dengan huruf awal c, d, j, t, z
Misalnya:
me + contek = mencontek
me + dorong = mendorong
me + jauh = menjauh
me + tusuk = menusuk (lihat juga B, 3)
me + zina + i = menzinai
tetapi untuk kata yang terdiri satu suku kata
me + cor = menbor atau mengecor
me + cap = mencap atau mengecap

4. Awalan me berubah menjadi meng
me + kata dasar dengan huruf awal huruf vokal, g, h
Misalnya:
me + ajak = mengajak
me + ejek = mengejek
me + isolasi = mengisolasi
me + orbit = mengorbit
me + ubah = mengubah
me + gunung = menggunung
me + hukum = menghukum
me + kilap = mengilap (lihat juga B, 1)

5. Awalan me berubah menjadi meny (lihat juga B, 4)
me + kata dasar dengan huruf awal s
Misalnya:
me + sembah = menyembah
me + sortir = menyortir
me + sikap + i = menyikapi
B. Perubahan pada huruf awal kata dasar
Huruf awal kata dasar yang akan mengalami perubahan adalah huruf k, p, t, s yakni akan luluh/lebur.
1. Huruf awal kata dasar k luluh menjadi ng
Misalnya:
me + konsumsi = mengonsumsi
me + kapur = mengapur
me + kaca = mengaca
tetapi untuk kata yang huruf awal berupa konsonan rangkap tidak luluh
me + khayal = mengkhayal
me + khitan = mengkhitan
me + khianat + i = mengkhianati
2. Huruf awal kata dasar p luluh menjadi m
Misalnya:
me + pukul = memukul
me + pilih = memilih
me + potong = memotong
me + popular + kan = memopulerkan
tetapi untuk kata yang huruf awal berupa konsonan rangkap tidak luluh
me + protes = memprotes
me + produksi = memproduksi
me + prakarsa + i = memprakarsai
3. Huruf awal kata dasar t luluh menjadi n
Misalnya:
me + tuju = menuju
me + tabrak = menabrak
me + toleransi = menoleransi
me + target = menarget
me + telantar + kan = menelantarkan
me + tarikh + kan = menarikhkan
tetapi perhatikan penulisan kata berikut dalam KBBI
me + tabulasi = mentabulasi bukan menabulasi
me + tablig + kan = mentabligkan bukan menabligkan
Anda punya penjelasan, silakan tulis pada kolom komentar untuk melengkapi tulisan ini.
=
untuk kata yang huruf awal berupa konsonan rangkap tidak luluh
me + traktir = mentraktir
me + tradisi = mentradisi
4. Huruf awal kata dasar s luluh menjadi ny
Misalnya:
me + sisir = menyisir
me + sobek = menyobek
me + susun = menyusun
me + salat + i = menyalati
me + sejahtera + kan = menyejahterakan
tetapi untuk kata yang huruf awal berupa konsonan rangkap tidak luluh
me + syukur + i = mensyukuri
me + standar + kan = menstandarkan
me + syariat + kan = mensyariatkan

Singkatan dan Akronim

Singkatan ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih. Sedangkan akronim, ialah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang diperlakukan sebagai kata.
Khusus untuk pembentukan akronim, hendaknya memperhatikan syarat-syarat sebagai berikut.
(1) Jumlah suku kata akronim jangan melebihi jumlah suku kata yang lazim pada kata Indonesia.
(2) Akronim dibentuk dengn mengindahkan keserasian kombinasi vocal dan konsonan yang sesuai dengan pola kata Indonesia yang lazim.
Pedoman pembentukan singkatan dan akronim diatur dalam Keputusan Mendikbud RI Nomor 0543a/U/198, tanggal 9 September 1987 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.
1. Singkatan
a. Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan atau pangkat diikuti dengan tanda titik.
Misalnya :
Muh. Yamin
Suman Hs.
M.B.A. (master of business administration)
M.Sc. (master of science)


S.Pd. (Sarjana Pendidikan)
Bpk. (bapak)
Sdr. (saudara)
Kol. (Kolonel)
b. Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf capital dan tidak diikuti tanda titik.
Misalnya :
MPR (Majelis Perwakilan Rakyat)
PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia)
KTP (Kartu Tanda Penduduk)
c. Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu titik.
Mislnya :
dsb. (dan sebagainya)
hlm. (halaman)
sda. (sama dengan atas)
d. Singkatan umum yang terdiri atas dua huruf, setiap huruf diikuti titik.
Mislnya :
a.n. (atas nama)
d.a. (dengan alamat)
u.b. (untuk beliau)
u.p. (untuk perhatian)
e. Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik.
Misalnya :
Cu (kuprum)
cm (sentimeter)
l (liter)
kg (kilogram)
Rp (rupiah)
2. Akronim
a. Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kapital.
Misalnya :
ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia)
LAN (Lembaga Administrasi Negara)
SIM (surat izin mengemudi)
b. Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kapital.
Misalnya:
Akabri (Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia)
Iwapi (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia)
Sespa (Sekolah Staf Pimpinan Administrasi)
Pramuka (Praja Muda Karana)
c. Akronim yang buka nama diri yang berupa gabungan, suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kecil.
Misalnya:
pemilu( pemilihan umum)
rapim (rapat pimpinan)
rudal (peluru kendali)
tilang (bukti pelanggaran)

Tata Bahasa

Kata menyolok dan mencolok sama-sama sering digunakan oleh pemakai bahasa Indonesia. Meskipun demikian, di antara keduanyahanya satu bentukan yang sesuai dengan kaidah pembentukan kata bahasa Indonesia.
Untuk mengetahui bentukan kata yang benar, kita perlu mengetahui kata dasar dari bentukan itu. Untuk itu, kita dapat memeriksanya di dalam kamus.
Dalam kamus bahasa Indonesia, terutama Kamus Besar Bahasa Indonesia, ternyata hanya ada kata dasar colok. Tampaknya, perbedaan bentukan kata itu timbul karena adanya perbedaan pemahaman mengenai proses terjadinya bentukan kata itu.
Sesuai dengan kaidah, kata dasar yang berawal dengan fonem /c/, jika mendapat imbuhan me-, bentukannya menjadi mencolok, bukan menyolok, karena fonem /c/ pada awal kata dasar tidak luluh.
Dengan demikian, dalam bahasa Indonesia bentuk kata yang baku adalah mencolok bukan menyolok.

Masih banyak kata-kata seperti contoh di atas yang digunakan secara semabrangan. Misalnya, nominator-nomine, pemirsa-pirsawan, jam-pukul, anarkis-anarkitis, juara-pemenang. (sumber: situs pusat bahasa depdiknas)

Malam Kelabu

'Malam kelabu'
Oleh : Iis Yeti Yulyaningsih

Air mata mengalir dalam bisu
Di malam yang kelabu
Hancur, lebur tanpa daya
Aku tak percaya
Dunia mampu membutakan mata manusia
Semua indah
Seketika hilang menjadi lautan darah
Darah yang semakin merah menjadi saksi jeritan nyawa tak berarti
Kini, yang tersisa hanya
kenangan dan kebencian
pada para pendosa

(oktober, 2002)

Senin, 08 Maret 2010

Domain gratis .com/.net/.org

Domain .com/.net/.org mungkin adalah domain premium yang harus bayar. tapi di sini domain-domain itu diberikan secara GRATIS.

1. Pertama

buka http://www.freedomainsbox.com/?rid=5ddc atau
http://www.freedomainsbox.com/signup.php?rid=5ddc

Terus isi data diri kamu nanti anda akan mendapatkan e-mail activation dari
http://www.freedomainsbox.com/signup.php?rid=5ddc

2. Kedua

Setelah anda login lihat di sebelah kanan ada tulisan refer other people seperti ini:

http://www.freedomainsbox.com/signup.php?rid=5ddc

atau

http://www.freedomainsbox.com/?rid=5ddc


Dalam kasus ini anda akan diberi link sendiri

3. Ketiga

Setelah itu anda di beri link and bisa mengajak teman untuk mengikuti program ini, setelah anda mengumpulkan 7 orang anda bisa menukarkannya di sebelah kanan atau tulisan "Request FREE domain name".


Selesai tnggal kamu mau host di mana.............. ya terserah kamu.



Tolong daftar dari ref aku

http://www.freedomainsbox.com/signup.php?rid=5ddc

atau

http://www.freedomainsbox.com/?rid=5ddc

kalo blog ini maklum baru daftar, jadi masih pake domain yg free (.co.cc)