Jumat, 04 September 2009

Pemakaian Bentuk Kependekan (Abreviasi)

Abreviasi adalah proses penanggalan satu atau beberapa bagian leksem atau kombinasi leksem sehingga jadilah bentuk baru yang berstatus kata.Istilah lain untuk abreviasi adalah pemendekan, sedangkan hasil prosesnya disebut kependekan.

Dalam bahasa Indonesia terdapat bentuk-bentuk kependekan seperti ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, dsb (dan sebagainya), dng (dengan. Kependekan-kependekan itu tidak menimbulkan kesukaran pada para pemakai bahasa.Kesulitan barulah timbul dalam menghadapi kependekan yang jarang dipakai atau dipakai dalam bidang yang amat khusus.

Kamis, 03 September 2009

Bahasa Prokem

Menurut Lita (1990: 2), bahasa prokem adalah bahasa yang digunakan untuk mencari dan menunjukkan identitas diri, bahasa yang dapat merahasiakan pembicaraan mereka dari kelompok yang lain. Kata-kata seperti bokap, ogut, boil, poskul, pae merupakan sebagian contoh kosakata prokem yang dipakai secara khas oleh kalangan remaja.

Bahasa prokem mulai digunakan warga masyarakat yang pada saat munculnya itu dikenal sebagai tukang copet, tukang jambret, perampok, pembunuh, dan pekerjaan lain yang menjurus ke arah kriminalitas. Bahasa ini kemudian mulai diserap beberapa orang yang tidak seprofesi, tetapi yang sering bersemuka dengan mereka itu. Mereka antara lain adalah pemuda dan remaja putus sekolah, yang ketika itu dikenal orang dengan nama crossboy. Dari sinilah bahasa prokem mengembangkan sayapnya dan dikenal banyak daripada jumlah “preman”. Kelompok yang kemudian tertarik untuk mempelajarinya adalah para remaja yang masih bersekolah, baik di sekolah-sekolah lanjutan tingkat pertama, maupun sekolah lanjutan tingkat atas, bahkan ada yang masih duduk di bangku sekolah dasar atau sudah di perguruan tinggi

Variasi Bahasa dan Ragam Bahasa

Menurut Chaer (2004: 66), variasi bahasa yang berkenaan dengan tingkat golongan, status, dan kelas sosial para penuturnya adalah akrolek, basilek, vulgar, slang, kolokial, jargon, argot, ken, dan prokem.


Akrolek adalah variasi bahasa yang dianggap lebih tinggi atau lebih bergengsi daripada variasi sosial lainnya. Contohnya, bahasa bagongan, yaitu variasi bahasa Jawa yang khusus digunakan oleh para bangsawan kraton Jawa. Basilek adalah variasi sosial yang dianggap kurang bergengsi, atau bahkan dianggap dipandang rendah.
Vulgar adalah variasi bahasa yang ciri-cirinya tampak dipakai oleh mereka yang kurang terpelajar, atau dari kalangan mereka yang tidak berpendidikan. Slang adalah variasi bahasa yang bersifat khusus dan rahasia. Artinya, variasi ini digunakan oleh kalangan tertentu yang sangat terbatas, dan tidak boleh diketahui oleh kalangan di luar kelompok itu.
Kolokial adalah variasi bahasa yang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Kolokial berarti bahasa percakapan, bukan bahasa tulis. Dalam bahasa Indonesia, percakapan banyak menggunakan bentuk-bentuk kolokial, seperti dok (dokter), prof, (profesor), dan sebagainya.
Jargon merupakan variasi sosial yang digunakan secara terbatas oleh kelompok-kelompok sosial tertentu. Ungkapan yang digunakan seringkali tidak dapat dipahami oleh masyarakat umum atau masyarakat di luar kelompoknya. Namun, ungkapan-ungkapan tersebut tidak bersifat rahasia, seperti roda gila, dices, dan didongkrak, yang dipakai oleh para montir di lingkungan perbengkelan.
Argot adalah variasi sosial yang digunakan secara terbatas pada profesi-profesi tertentu dan bersifat rahasia. Letak kekhususan argot adalah pada kosakata. Umpamanya, dalam dunia kejahatan (pencuri, tukang copet) pernah digunakan ungkapan, seperti barang dalam arti ‘mangsa’, kacamata dalam arti ‘polisi’, dan tape dalam arti ‘mangsa yang empuk’.
Menurut Chaer (2004: 68), ken (Inggris = cant) adalah variasi sosial tetentu yang bernada ‘memelas’, dibuat merengek-rengek, penuh dengan kepura-puraan. Biasanya digunakan oleh para pengemis.
Prokem merupakan variasi sosial bahasa yang bersifat bebas. Artinya, variasi bahasa yang digunakan oleh kelompok tertentu, yang terbatas di lingkungan remaja sebagai alat komunikasi. Oleh karena itu, kosakata yang digunakan dalam prokem itu selalu berubah-ubah. Variasi bahasa prokem digunakan oleh para remaja, meski tidak menutup kemungkinan golongan tua pun memakai bahasa tersebut sebagai alat komunikasi